“Datuak… tunggu dulu!” Sutan Siri turut berdiri.
Turut bergegas menuju pintu. Berusaha menghalangi Datuak Bandaro Rajo menuruni
anak tangga rumah gadang. Berpasang
mata menyaksikan. Semua tahu. Datuak Bandaro Rajo sedang marah.
Syahrial duduk menekur makin dalam. Dia tahu,
kemarahan Datuak Bandaro Rajo karena perkataannya barusan.
“
“Kami ingin Datuak merestui langkah yang kami
ambil. Datuak, biarkan Syahrial melangkah dengan keputusan yang diambilnya.
Sepertinya apa yang tadi dikatakannya sama sekali tidak salah.” Sutan Siri
berusaha membujuk Datuak agar duduk lagi.
“Sutan, ambo penghulu adat di kampung kita.
Seluruh permasalahan adat turun temurun dari dulu selalu diselesaikan secara
adat. Keputusan yang Syahrial berikan telah menentang adat. Ambo tidak mungkin
merestui.”
“Tapi Datuak…!”
“Permisi… Assalamualaikum…”
Datuak Bandaro Rajo menuruni satu demi satu anak
tangga rumah gadang dengan langkah cepat. Sutan Siri masih berusaha memanggil.
Datuak sama sekali tidak menghiraukan. Dia benar-benar merasa telah dilecehkan.
Dia penghulu adat kaum kutianyir, seekor
kerbau dipotong untuk merayakan penobatan dirinya sebagai pemimpin adat suku
kutianyir di desa Kurai Taji, Pariaman. Tapi kini? Syahrial, anak bau kencur,
yang baru kemarin tamat kuliah telah mendebatnya tentang perkara adat yang
selama ini salah menurutnya.
Tahu apa anak itu?
Sutan Siri kembali masuk ke dalam rumah gadang.
Duduk dengan lesu. Syahrial menatap ayahnya dengan pikiran berkecamuk. Ini
salahnya. Tapi dia tahu, ini bukan kesalahan.
***
Jarum jam tepat berada di angka dua. Petugas ronda
keliling baru saja memukul tiang listrik sebanyak dua kali. Syahrial masih
belum bisa memejamkan mata.
Dia sudah menduga semuanya tidak akan berjalan
dengan mudah. Tapi dengan penjelasan darinya, Syahrial berharap semua akan
mengerti. Ternyata tidak. Sebenarnya bukan hanya Datuak Bandaro Rajo yang
menentang ucapannya, bahkan uda dan uni-nya juga terkejut mendengar
keputusan Syahrial. Ayah dan Bundo pada awalnya juga tidak setuju.
Perkara yang menurut Syahrial sangat sepele,
ternyata telah meruntuhkan sendi-sendi adat yang selama ini tertata dengan
kuat. Syahrial hanya ingin mengganti sendi itu dengan yang baru. Bukan
bermaksud menimbulkan konflik dan perpecahan, tapi hanya untuk memperbaiki
sebuah kesalahan.
“Jadi berapa harga yang mau kita tetapkan untuk
Syahrial?” begitu kata Datuak Bandaro Rajo saat rapat telah dimulai tadi.
Sebenarnya terlalu formil kalau dikatakan itu rapat, hanya sebuah pertemuan
keluarga besar Sutan Siri. Datuak Bandaro Rajo diundang karena beliau adalah
kepala suku di kampung itu.
“Tidak ada, Datuak.” Sutan Siri menjawab sambil
menunduk. Dia tahu itu bukan jawaban yang diinginkan Datuak Bandaro Rajo.
“Tidak ada bagaimana?”
“Kita hanya pergi melamar, kalau diterima,
langsung ditetapkan kapan pernikahan akan dilangsungkan.”
Dari situlah awal pertengkaran hebat itu terjadi.
Datuak Bandaro Rajo langsung naik pitam.
“Sejak kapan aturan itu berlaku di kampung kita?
Kita orang berada. Syahrial juga seorang sarjana, sudah bekerja pula. Kita
harus mematok harga tinggi kalau ada yang ingin mengambilnya jadi menantu.”
“Pak Datuak, ambo minta maaf, tapi ini pernikahan,
bukan jual beli. Ambo yang akan menikah Datuak, izinkan ambo melangkah dengan
cara ambo.” Syahrial menjelaskan.
“Tapi itu berarti kamu melanggar adat.”
“Adat yang mana Datuak? Dosakah?”
“Ini adat istiadat, turun temurun dari dulu.”
“Tapi kita orang Minang Datuak, adat basandi syarak, syarak basandi
kitabullah. Tidak ada bagian dari agama kita yang mampu menjelaskan
darimana asalnya sehingga apabila seorang lelaki dikampung ini ingin menikah,
maka dia harus dibeli.”
“Tidak perlu ambo waang ajari. Ambo lebih tahu. Ambo lebih paham perkara adat.”
“Tapi Datuak…” Syahrial tidak melanjutkan
perkataannya. Datuak Bandaro Rajo sudah bergegas berdiri hendak pergi.
Syahrial kembali menatap langit-langit kamarnya.
Jarum jam sudah beranjak
***
Minggu lalu, Syahrial menuturkan keinginannya pada
ayah dan bundonya.
“Waang sudah yakin…?” perempuan tua itu menatap
lelaki muda di depannya.
“Yakin Bundo, bukankah tidak ada lagi hal yang
memberatkan? Syahrial sudah bekerja.”
“Calonmu sudah ada?” Sutan Siri yang duduk di
samping mereka menimpali.
Syahrial tersenyum. “Sudah ayah, ayah dan bundo
juga sudah mengenalnya. Siti Rohani, teman sekolah Syahrial dulu, gadis kampung
sebelah.”
Sutan Siri dan istrinya saling pandang. Keduanya
tersenyum.
“Kapan?” Sutan Siri bertanya.
“Lebih cepat lebih baik, ayah. Bulan depan,
Syahrial akan cuti selama satu minggu, kalau bisa, kita langsungkan saat itu.”
Tapi di kampung ini, urusan pernikahan bukan hanya
urusan antara dua keluarga, melainkan urusan dua kaum adat, menyangkut kepala
banyak orang. Makanya malam itu Sutan Siri mengundang Datuak Bandaro Rajo ke
rumah, beserta beberapa orang niniak
mamak lainnya. Membicarakan rencana pernikahan Syahrial dengan gadis
kampung sebelah. Dan hasil pembicaraan malam itu memang sudah diprediksi
Syahrial sebelumnya.
Sudah jadi tradisi di kampung ini, lelaki lah
pihak yang harus dilamar, dan harus dibeli. Syahrial sendiri tidak tahu mengapa
harus begitu. Adat. Begitu kata para tetua kampung. Harga jualnya juga
tergantung siapa lelaki-nya. Berpendidikankah? Orang beradakah? Semakin tinggi
status sosialnya maka akan semakin tinggi harga yang dipatok untuk dibayar
pihak keluarga perempuan. Ini pernikahan atau perdagangan?
Syahrial tahu persis, sampai sekarang sawah di
kaki bukit yang telah digadaikan ayah untuk membayar lelaki calon suami Uni
Fatma belum lagi bisa ditebus. Mengapa pernikahan, sesuatu yang sakral dan
suci, bahkan nabi mengatakan kalau itu adalah separuh dari agama, hanya dinilai
dengan besaran uang dan harta?
Syahrial tidak ingin itu terjadi padanya. Dia
ingin seperti yang sudah digariskan agama saja. Mereka pergi melamar kepada
pihak wanita, jika diterima maka ditetapkan hari pernikahan. Jikapun harus
membayar, maka Syahrial lebih memilih dialah yang harus mengeluarkan uang.
Tanpa dilamarpun, sebenarnya Siti sudah pasti
menerima dirinya. Mereka sudah kenal sejak lama. Pernikahan ini pun sudah
merupakan kesepatakan mereka berdua, jauh sebelum Syahrial mengatakan itu pada
orang tuanya.. Tapi adat melamar tetap harus dilaksanakan. Bukankah dalam Islam
juga dikenal istilah khitbah? Syahrial juga ingin proses pernikahannya
dilakukan dengan proses itu terlebih dahulu.
Masalahnya sekarang, belum pernah ada sejarahnya
di kampung ini lelakinya tidak dibeli sebelum menikah.
***
Sudah tiga kali Sutan Siri bolak-balik menemui
Datuak Bandaro Rajo di rumahnya, untuk meminta kesediaan sang datuak turut
mengantar keluarga mereka pergi melamar ke rumah keluarga Siti Rohani di
kampung sebelah. Tapi sama sekali tidak ada hasil. Datuak tetap bersikukuh
dengan pendiriannya.
“Maafkan ambo Sutan. Jangan pernah suruh ambo
melakukan sesuatu yang melanggar peraturan adat. Mau ditaruh di mana muka ini
jika orang sekampung tahu kalau Syahrial menikah dengan jalan itu?”
Sutan Siri pulang. Lagi-lagi tanpa hasil.
“Sudahlah ayah, kita saja yang pergi ke
“Syahrial, kau macam tidak tahu saja, jika satu
kampung tahu kita pergi melamar Siti tanpa di dampingi penghulu adat, mereka
akan mencibir kita. Bahkan para gadis dan bujang yang tertangkap basah berbuat
zina, tetap dinikahkan secara adat di hadapan kedua penghulu suku mereka.
Apalagi kamu yang menikah secara baik-baik.”
“Lalu di mana letaknya adat yang bersendikan
syarak itu ayah? Mengapa harus agama yang menurut pada adat? Bukankah adat yang
semestinya menyesuaikan diri dengan peraturan agama? Baik menurut adat belum
tentu baik menurut agama. Bukankah agama yang harus diikuti?”
Sutan Siri terdiam. Selalu tidak bisa membantah
alasan yang dikemukakan anaknya. Keinginan Syahrial yang semula tidak ingin
dibeli juga telah membuatnya murka. Dia sudah berharap sekali, sawah mereka
yang tergadai karena pernikahan Fatma akan balik lagi jika Syahrial dilepas
dengan harga tinggi. Dia juga yakin kalau Syahrial akan dikehendaki oleh orang
tua manapun sebagai menantu. Syahrial pemuda baik-baik yang berpendidikan
tinggi, berwajah tampan dan sudah mapan. Berapapun mereka menetapkan harga,
pihak keluarga perempuan pasti menerima. Tapi Syharial memupuskan harapannya.
Sayangnya, dia tidak bisa membantah, alasan yang dikemukakan anaknya memang
benar.
“Ayah, apakah pernikahan ini akan batal hanya gara-gara Datuak Bandaro Rajo
tidak mau mengantar keluarga kita pergi melamar?”
“Ayah akan datangi dia sekali lagi. Jika dia tetap
pada keputusannya, maka cukup keluarga kita saja yang pergi ke rumah keluarga
Siti.”
***
Syahrial
duduk di depan jendela rumah gadang. Sesekali matanya menatap ke jalanan. Tapi
yang ditunggunya belum kelihatan. Purnama merajai angkasa dengan senyumnya.
Cahayanya yang terang membuat rona gelisah di wajah Syahrial terlihat jelas.
Sudah
jam sebelas malam. Rombongan yang pergi melamar belum juga pulang.
Selepas
isya tadi. Pihak keluarganya berangkat menuju kampung sebelah. Melamar Siti
Rohani sebagai istrinya. Datuak Bandaro Rajo akhirnya bersedia. Syahrial
mengucap terima kasih yang tak terhingga atas kegigihan ayahnya membujuk Datuak
Bandaro.
Syahrial
sudah dapat membayangkan adu mulut yang terjadi antara Datuak Bandaro Rajo
dengan penghulu adat suku Tanjung di kampung sebelah. Kira-kira bagaimana
Datuak menjelaskan kalau mereka tidak menetapkan berapapun harga bagi Syahrial?
Sebelum
rombongan berangkat tadi, Syahrial hanya menitipkan satu pesan pada ayahnya,
lamar Siti Rohani dan tanyakan mahar yang dia minta. Hanya mahar itulah
nantinya yang akan menjadi kewajiban Syahrial untuk mencarikannya.
Alunan
kumandang azan bergema dari telepon genggam di saku celana Syahrial. Itu nada
sms. Bergegas Syahrial membukanya. Dari Siti.
“Uda, pihak keluarga Uda sudah pulang. Proses khitbah
telah selesai dilakukan. Tanggal pernikahan juga telah ditetapkan. Hari Jumat
pertama awal bulan depan.”
Alhamdulillah….
Syahrial langsung sujud syukur. Setelah itu dia membalas sms Siti.
“Syukurlah, apakah tidak ada masalah dalam acara
tadi?”
“Aku hanya mendengar dari dalam kamar. Kedua orang tua
kita setuju. Kedua Datuak juga telah sepakat, 25 emas adalah nilai yang akan
kami bayar untuk Uda.”
Tubuh
Syahrial lemas seketika. Telepon genggamnya jatuh ke lantai rumah gadang. 25
emas? Mengapa jadi seperti ini? Syahrial menatap purnama. Bayangan ayahnya dan
Datuak Bandaro Rajo tampak tersenyum penuh kemenangan di atas
***
Payakumbuh,
19 Februari 2011
Keterangan:
Rumah
Gadang : Rumah adat Minangkabau
Ambo : saya
Kutianyir : nama salah satu suku di Minangkabau
Uda : abang / kakak laki-laki
Uni : kakak perempuan
Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah : filosofi adat minangkabau (adat bersendikan syariat, syariat
bersendikan kepada Kitabullah / Alquran)
Waang : kamu (panggilan kepada laki-laki)
yang lebih muda
Niniak mamak : para tetua adat
*) Versi Bahasa Inggris dari cerpen ini pernah dibacakan secara live di ABC Radio National Australia pada tahun 2016. Bisa didengarkan di sini
*) Cerpen ini sudah dimuat dalam 4 buku antologi berbeda, bisa baca infonya di sini LELAKI YANG DIBELI DALAM 4 ANTOLOGI
Komentar
Posting Komentar