JAUH hari
sebelum tanggal musim panen, Buyung kena musibah. Tapi kali ini bukan ladangnya
yang kena musibah. Dia lain datangnya, lain pula musababnya. Sudah hampir
seminggu, Buyung mengeluh mata kanannya sakit. Bola matanya merah dan berair.
Awalnya, Buyung kira itu cuman radang biasa. Hanya iritasi belaka. Dipoles
rebusan air sirih atau minyak kelapa, mungkin saja mata Buyung langsung simsalabim!
– sembuh total. Perlu dua sampai tiga hari agar obatnya berefek. Namun, belum
sampai dua hari, mata Buyung malah semakin parah. Kelopak bawahnya membengkak.
Bernanah-nanah.
Ah,
malang sekali nasib Buyung! Malang sekali nasib si gembrot itu. Padahal, musim
panen di tahun ini adalah yang paling ditunggu-tunggunya sepanjang masa.
Setelah dia mengalami gagal panen berkali-kali. Setelah ladangnya diserang
berbagai hama, kekeringan, penyakit menular, dan segala tetek-bengek lainnya. Buyung
hampir putus asa. Yang terbaru, tahun kemarin ladangnya dilumat-lumat sekawanan
babi hutan. Babi siluman. Di kampungnya yang dekat kota, mana ada babi liar.
Monyet liar saja tidak kelihatan, apalagi seekor babi. Kampungnya itu
dikelilingi ladang dan kebun, bukan hutan lindung. Lagipula, babi-babi kemarin
yang melenyapkan ladangnya itu aneh. Warnanya coklat matang. Mirip kulit kerang
bakar yang lupa dibalik.
Tahun
ini tidak. Seharusnya tidak. Tidak bakal ada hal yang membikin ladangnya gagal
panen lagi. Buyung tahu betul. Dia sudah memasang pagar pembatas. Jumlahnya ada
banyak. Pagarnya melingkari ladang Buyung dan titik-titik tertentu. Plus,
dilengkapi pelindung tambahan berupa kawat. Kawatnya berduri-duri dan tajam. Dengan
itu, dia tahu tidak akan ada yang bisa masuk. Ya, tidak akan ada. Hama-hama,
wabah, sampai kekeringan – pasti mereka bakal takut. Siapa saja yang nekat pergi:
pulang mati tertusuk.
Minggu
kemarin, kabar dari penjaga sebagian gerbang ditemukan berlubang. Meski tampak
ladangnya masih bagus-bagus dan nihil jejak hewan. Buyung antisipasi. Niatnya,
dia mau pasang penyetrum listrik. Tapi, naas, di tengah perjalanan Buyung kena
celaka. Bukan terserempet ban mobil atau ditabrak motor ibu-ibu yang sen kanan
belok kiri. Ini lain hal. Mata Buyung kemasukan sesuatu. Kemasukan sesuatu yang
terbang. Macam serangga, tapi rasanya bukan. Jadilah motor Buyung oleng dan
jatuh ke pematang sawah. Eh, bangun-bangun, mata sebelahnya jadi kunang-kunang.
Entah apa yang
masuk. Tapi yang pasti itulah yang bikin mata Buyung pesakitan hampir seminggu
ini. Kemasukan lalat, nyamuk, walang sangit, atau debu dan kerikil jalanan –
masih dia terima. Tapi kalau merunut perkataan Istrinya, dia kemasukan khodam.
Buyung mau berkata apa?
“Kamu
itu lagi beruntung, Bang. Aku dengar dari si Malik, ada riyadlah[1]
baru di ujung pasar. Dia menggantikan Kang Sarip. Besok, kita harus pergi ke
sana. Pagi-pagi!”
“Kang
Sarip itu tukang sunat,” seloroh Buyung. “Bukan tukang ramal!”
“Iya,
aku tahu. Tapi, apakah kau tidak ingat siapa yang menentukan hari pernikahan
kita? Bulan kawin kita? Sampai kita akhirnya bertahun-tahun bisa melahirkan
Malik? Sampai akhirnya kita bisa menyekolahkan Malik? Ah, dia itu lebih, Bang!
Dan riyadlah baru di ujung pasar itu, bukan hanya sekadar menggantikan
Kang Sarip. Dia anaknya!”
Buyung
terdiam. Dia tetap tidak percaya hal mistis yang dikatakan Istrinya berulang
kali. Yang menentukan hari pernikahan dan bulan kawin memang ulah si beroncos
tua itu. Tapi, lihat siapa yang menyuruh mereka ke sana? Tak lain dan tak bukan
adalah gara-gara suruhan mertua lakinya. Konon, katanya kalau tidak konsultasi
pada Kang Sarip sebelum perkawinan: bisa bahaya.
“Ladangku
masih sering gagal panen.”
“Itu
karena dulu Abang susah diajak pergi, ” kata Istrinya mencak-mencak sambil mengambil
kopi Buyung. Gayanya acuh tak acuh. Langkahnya berdebam-debam. Kopinya yang
tadi belum sempat diminum, jadi tumpah di ruang tamu.
“Abang ini terlalu
bebel tahu enggak? Keras kepala!”
Sore itu, Buyung
terpaksa mengepel ruang tamu. Tadinya hanya ruang tamu. Namun, karena melihat
Istrinya yang mengunci diri di dalam kamar dan tak mau membuka pintu, Buyung
mengepel sampai dapur. Tak lupa halaman belakang sekalian. Ah, Buyung berharap,
nanti malam jatahnya tidak akan berkurang.
Maka, untuk
menghindari kepusingan baru. Kepusingan selain matanya yang pesakitan. Buyung
memilih ikut. Ya, dia ikut Istrinya ke ujung pasar. Pagi-pagi sekali, jam lima
subuh. Karena kalau tidak pagi, kata Istrinya itu bisa bahaya. Entah bahaya
apa. Buyung tidak bertanya. Tidak mau tahu.
Sebelum masuk ke
bangunan yang mirip ruko terbengkalai itu, Buyung terhenti di ambang pintu.
Rautnya memasang curiga.
“Sebentar, kalau
misal aku memang kemasukan khodam. Tentu aku tidak merasakan sakit bukan?
Khodam itu sifatnya melindungi, bukan menyakiti!”
“He, kata siapa?
Khodam itu ada yang baik dan jahat!” Mata Istrinya melotot. Untung-untung tidak
keluar. “Ah, Abang ini dari dulu memang sok tahu!”
Buyung menelan
ludah. Bertanya pada Istrinya adalah sebuah kesalahan besar.
Di dalamnya itu,
mereka lalu duduk di alas tikar yang tidak terlalu mahal. Lampu-lampunya biasa
saja. Dindingnya polos berwarna putih, sebagian rontok digerus gerimis. Tidak
ada patung dan lukisan aneh-aneh. Tidak ada dupa-dupa atau bau kemenyan. Buyung
malah kesemsem di sini. Bau ruangannya mirip parfumnya dulu sewaktu lajang –
parfum minyak urut.
Dari tirai
berbahan daster bekas di hadapan mereka, muncullah seorang lelaki muda
kerempeng bertelanjang dada. Bibirnya pucat seperti perokok akut. Rambutnya
awut-awutan. Matanya masih belekan. Tubuhnya yang hitam legam dibaluri minyak.
Kinclong satu badan. Orang ini bukan kelihatan seperti dukun, tapi kelihatan
seperti kuli bangunan yang sehari mengangkat lima ton batu bata dan membikin
tulangnya sakit-sakit – sehingga dia harus diurut berkali-kali.
“Silahkan duduk,”
katanya. “Mau cek khodam, ya? Boleh dilihat dulu tarifnya.” Dia menunjukkan
sebuah papan. Nada bicaranya seperti orang yang ngantukan. “Satu orang
harganya itu sepuluh ribu. Dua berarti dua puluh. Nah, karena kami sedang
melakukan sistem baru. Jadi untuk pengunjung pertama, biasanya dapat diskon.
Dua puluh lima persen.”
Buyung menoleh ke
arah Istrinya. Oh, ternyata ini yang dimaksud bahaya.
“Kamu mau cek
juga?” senggol Buyung.
“Iyalah, Bang…”
kata Istrinya, memelas. “Cuman beda lima ribu. Boleh ya?”
Buyung tidak
menjawab. Istrinya sudah duluan memberi kuli itu lima belas ribu sambil
terkekeh-kekeh.
Lalu, dengan
gerakan ala-ala dukun umumnya, dia menaruh duit itu di atas mangkuk dan
komat-kamit membaca mantra. Suasana hening. Istrinya khusyu’ mengikuti
jalannya ritual. Tapi, samar-samar Buyung malah mendengar suara sesuatu.
Suaranya pelan-pelan merambat. Seperti bunyi token listrik mau habis. Nit!
Nit! Nit!
Riyadlah
itu
kemudian pamit sejenak, pergi ke ruang belakang. Di sana, mereka mendengar
orang itu muntah-muntah dan berteriak kesetanan. Tiga menit dia kembali lagi,
wajahnya sudah pucat pasi. “Wah, ini bahaya!” katanya.
Bahaya
terus, batin Buyung.
“Apa itu, Mas?”
Istrinya gusar. Panik setengah mati. “Jangan koid dulu, ya Tuhan!”
“Hish! Sembarangan.”
Barman menyikut Istrinya.
Dia lalu duduk. Menatap
lekat-lekat mereka berdua. Tatapannya sungguh serius. Kedua alisnya naik-naik,
tapi bukan ke puncak gunung. “Khodam Pak Buyung ini antara bahaya dan tidak,”
katanya, cemas. “Tapi yang pasti perlu diobati!”
Buyung mendelik “Ya,
memang kudu diobati. Kan, mata saya lagi sakit.”
“Diem, Bang!”
bisik Istrinya sembari mencubit paha Buyung. Lelaki berkepala empat itu setelahnya
meringis kesakitan.
“Kalau boleh saya
tahu, khodamnya apa ya, Mas?”
Riyadlah
itu
terdiam sejenak. Dia menghela napas panjang.
“Ikan mas koki!”
“Bujug buneng!” kata Buyung, kaget. “Khodam
jenis apaan ikan mas koki? Jelek betul!”
Istrinya mencubit
paha Buyung. Seribu kali lipat lebih keras.
“Baik, boleh saya
jelaskan sebentar?” Menyadari tingkah kekanak-kanakan kliennya yang satu ini,
dia meminta perhatian. Buyung dan Istrinya seketika terdiam. Gegas, duduk manis
siap mendengarkan.
“Oke, begini. Khodam
Pak Buyung itu ada hubungannya dengan pekerjaan. Ada hubungannya dengan ladang.
Musim panen biasanya dimanfaatkan oleh orang-orang lain untuk membalaskan
dendam. Seperti ladangnya dihancurkan atau… Ya, mirip-mirip dengan ladang
Bapak!”
“Jadi, saya akan
dapat sial lagi? Seperti tahun lalu?”
“Sayangnya itu
benar,” jelasnya. “Mereka telah berhasil mengalahkan dan melukai khodam Pak
Buyung dengan khodam mereka sendiri. Khodam mereka sangat kuat. Sangat
terlatih. Ikan mas koki punya Pak Buyung sudah dilukai. Matanya bisa saja
ditusuk atau… entahlah. Yang terpenting, hewan itu sekarang sedang terluka!”
“Siapa yang
berbuat seperti itu? Anda tahu?” Buyung semakin penasaran.
“Baik, saya
jelaskan filosofinya,” katanya bersiap memberi penjelasan kedua. Kepala Buyung
sontak mendekat. Kali ini, dia sangat-sangat penasaran. “Ini tidak jauh-jauh
dari bentuk khodam itu sendiri. Ikan mas koki itu tinggalnya di mana? Akuarium
bukan? Lalu, siapa yang merawat? Nah, dari situ saja bisa anda tebak. Yang
mampu masuk dengan mudah ke akuarium anda, boleh jadi itu orang-orang terdekat.
Atau malah, yang mengurus ikan itu selama ini…”
Serta-merta, tanpa
alasan, Buyung menoleh ke arah Istrinya.
“Kenapa, Bang?”
Istrinya heran. Di depannya, Buyung mendengkus-dengkus.
“Kamu kan yang melukai mataku?”
“Maksud Abang?”
“Kamu kan yang
mengalahkan khodamku?”
“Aku enggak paham,
Bang.”
“Halah, enggak
usah sok!” Barman berdiri. Dia menuding-nuding Istrinya. “Dari kamu panik tadi,
sudah kelihatan kalau kamu takut bakal ditinggal mati olehku karena belum
sempat memberi kamu surat warisan! Betul begitu?”
“Aku enggak pernah
kayak gitu, Bang! Istigfar!”
Amarah Buyung naik
meledak-ledak. Riyadlah di hadapan mereka tertegun kebingungan. “Tengok Bapakmu
itu! Dia kan yang sering-sering ngomong soal ladang dibanding kamu! Pasti kamu
disuruh dia, kan? Ngaku!”
Di antara riuh dan
berisik pertengkaran mereka, Barman mendengar suara itu lagi. Suaranya cukup keras.
Nit! Nit! Nit!
“Bapakku orang
baik, Bang! Mana pernah dia mikir soal ladang!”
“Halah, banyak
omong! Kamu kira aku bodoh?”
“Buktinya, dia
yang nalangin pernikahan kita, kan! Duit kamu mana bisa buat bayar masak-masak,
hah? Ingat? Dulu kamu itu cuman jadi sopir angkot! Kalau Bapakku enggak rekrut
kamu ke perusahaannya, kita bakal jadi orang miskin, Bang. Miskin!”
“He, ngawur saja
kamu. Ladang itu hasil kerja aku nyupir tahu, gak? Bukan dari gaji
Bapakmu yang ndat-ndatan itu!”
“Terus, kenapa
kamu terima tawaran Bapakku?”
“Ya karena, aku
tidak enak!”
“Biji kuda!”
Suara itu semakin
keras.
“Sudahlah, aku gak
peduli. Capek-capek aku bawa kamu ke sini, tapi kamunya begitu. Biarlah. Biar
matamu makin parah. Terus meledak! Hahaha, mampus! Sudahlah, aku mau pergi.”
“He, ini juga
pakai duit aku! Dasar perempuan gak tahu diri. Kalau takut, bilang!”
Istrinya menoleh.
“Takut apaan? Hah?”
“Pasti khodam kamu
babi panggang, kan? Iya, kan? Taring kamu itu sudah dipakai buat melukai
mataku. Mata ikan mas kokiku! Kamu pula yang merusak ladang, kan? Iya, kan? Sudahlah,
jangan mengelak!”
Buyung menengok ke
arah riyadlah tersebut. Tangkas sekali. “He, kuli kerempeng! Coba kamu
cek khodam dalam Istriku ini. Cepat!”
Suara itu semakin
keras, semakin keras, semakin keras…
Dan sampai di
telinga Buyung. Nit! Nit! Nit!
Bum! Tiba-tiba
pemandangan di sekitarnya jadi hitam dan gelap. Buyung mengira, dia sudah buta.
Buyung mengira, matanya sudah meledak seperti kata istrinya.
“Waduh, Mas.” Riyadlah
itu beranjak. Terdengar suara tepukan jidat. “Baterai HP saya habis, belum
sempat dicas. Sebentar, ya, saya mau bayar listrik dulu.”
Lalu, Buyung
melongo. Mulutnya menganga lebar. Lelaki itu pergi dengan membawa uang lima
belas ribu yang diberi Istrinya tadi.
Suara tokennya masih berdenging. Nit! Nit! Nit! ***
(*) Gagah Pranaja Sirat, lahir dan
menetap di bogor 12 Desember 2007. Di 1 tahun awal menulisnya, dia sudah
mendapat lebih dari 50 juara dan prestasi dalam lomba kepenulisan fiksi serta
non-fiksi. Baru-baru ini dia telah memenangkan dua cabang lomba sekaligus
dengan sama-sama juara pertama pada cabang lomba cerpen dan cabang lomba puisi
dalam rangka Festival Kenduri Sastra Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, serta
cerpennya ‘Mondar-Mandir’ memenangkan juara kedua pada Bulan Bahasa Universitas
Gadjah Mada. Profil prestasi tentang dirinya sudah diterbitkan dalam Majalah
Inspiratif oleh Duta Inovatif Indonesia dan Youth Idea Community. Lihat
ia lebih lanjut melalui instagramnya: @gahpraja.
Komentar
Posting Komentar