Malam
Senin adalah jadwal Hendrawan mendapat tugas sif malam setelah Pak Herlambang
memberi tahu tadi pagi. Meskipun agak kurang suka ketika harus tetap bekerja
sampai larut, demi keluarga, mau tidak mau harus tetap dilakoni. Sebagian
karyawan pun sudah pulang sejak pukul delapan, tinggal beberapa lagi yang
tersisa.
Hendrawan
bekerja di sebuah bangunan tua. Menurut info, bangunan itu sudah ada dan
beroperasi saat masih penjajahan Belanda, kemungkinan telah berumur kurang
lebih seratus tahun. Meskipun tua, bangunannya masih kokoh karena dirawat
dengan baik juga karena bangunan Belanda memang terkenal kuat dan tahan
lama.
Ruang
kerja Hendrawan berada di pojok dekat tangga. Apesnya, dia sedang seorang diri
di dalam ruangan cukup luas nan sepi meski benderang. Kopi yang tadi mengepul,
mulai dingin akibat tak tersentuh. Rasa kantuk mulai menyerang, Hendrawan makin
lama makin tidak fokus.
Beberapa
kali pemuda itu ketahuan hampir tertidur hanya gara-gara membiarkan mata
terpejam cukup lama. Sudah sepi, sendirian, makin larut, siapa yang tidak tahan
untuk terlelap? Seharusnya, dia sedang enak-enaknya tertidur di kasur empuk dan
hangat tanpa harus memikirkan pekerjaan. Namun, kenyataannya?
“Ngantuk,
Mas?”
Hendrawan
terkesiap mendengar suara dari arah belakang. Wajahnya berpaling, melihat siapa
yang sedang berbicara.
“Eng-enggak,
kok, Pak,” jawab Hendrawan seraya mengucek mata.
Sorang
laki-laki tinggi yang mengenakan jas hitam, tengah berjalan menuju Hendrawan.
Tampak dari kejauhan, orang itu seperti ramah karena selalu tersenyum.
“Karyawan
baru di sini, Mas?” tanya orang itu lagi, lalu menarik bangku di samping
jendela dan duduk bersebelahan dengan Hendrawan.
Hendrawan
menjawab, “Iya, Pak. Saya baru seminggu kerja di sini.”
Sedikit
senang Hendrawan melihat laki-laki itu. Setidaknya, ada teman untuk diajak
mengobrol. Bukan suatu masalah juga harus berbincang dengan seorang laki-laki
yang menurutnya sudah berumur lima puluh tahunan. Yang penting ramah dan tidak
sering bermuka masam, sudah lebih dari cukup.
“Masnya
tidak takut sendirian di sini?” Laki-laki itu bertanya seraya memindai
sekeliling ruangan.
Pertanyaan
macam apa itu? Hendrawan menggerutu dalam hati. Jika ditanya takut, dia
merasakan sendiri biarpun seorang laki-laki. Pemuda itu hanya tidak mau
berpikir terlalu jauh dan tentunya menolak membahas apa pun yang berhubungan
dengan dunia lain.
“Sebenarnya
rada takut, apalagi saya bekerja di bangunan jaman dulu,” sahut Hendrawan,
“semoga, sih, aman.”
Daripada
membahas lebih lanjut, Hendrawan mengalihkan pembicaraan. “Bapak sudah berapa
lama di sini?”
Laki-laki
itu tersenyum, tetapi belum kunjung menjawab. Barulah beberapa saat kemudian,
dia menyahut, “Saya sudah ada di sini sejak bangunan ini resmi dibuka.” (*)
Komentar
Posting Komentar